Sunday, November 30, 2008

JUDI dan SISTEM PEREKONOMIAN BANGSA:
Diskusi Singkat Antara Dua Pakar



Pendahuluan
Sejak dahulu kala hingga sekarang, berjudi adalah suatu kegiatan negatif di negara ini. Karena dianggap negatif, maka judi dianggap sebagai suatu masalah yang perlu keseriusan penangannya. Kegiatan berjudi ini disebut sebagai kegiatan klasik sebab selain judi telah ada sejak lama sekali, judi juga juga menjadi sumber penyebab munculnya banyak permasalahan, pakar sosialogi mengawali diskusinya dengan pakar pakar ekonomi di suatu tempat pertemuan. Coba bapak bayangkan, pakar sosialogi melanjutkan, untuk bisa berjudi, si penjudi harus punya: 1) uang, 2) berani tantangan; 3) mencari dan mengisi peluang untuk memiliki uang yang lebih banyak lagi; dan 4) kemampuan. Jadi, kalau seseorang ingin melakukan kegiatan judi, maka ia harus memiliki atau didukung oleh setidaknya 4 hal di atas.
Sepanjang yang saya tahu, judi itu merupakan suatu permainan yang memakai uang sebagai taruhannya, pakar sosialogi tadi mencoba memberi penjelasan secara akademik ke pakar ekonomi. Dan melanjutkan penjelasannya dengan mengatakan bahwa kata berjudi itu, diartikan sebagai bentuk aktivitas yang mempertaruhkan sejumlah uang/aset di suatu permainan tebakan berdasar analisa kemungkinan tertebaknya permainan, dengan tujuan untuk mendapatkan uang/aset yang lebih besar daripada jumlah uang/aset semula. Si pakar ekonmi yang cerdas itu mulai berfikir untuk menganalisa pemikiran si pakar sosialogi dengan memberi komentar, “ kalau makna judi dan berjudi seperti itu “, lantas apa bedanya dengan pakar ekonomi dalam memaknai kata ekonomi dan berekonomi? Semua syarat yang harus dimiliki seorang penjudi, nyaris sama dengan syarat yang harus dimiliki oleh seorang yang mau berekonomi seperti duit, berani ambil resiko, terus menerus melihat dan memanfaatkan peluang, serta memiliki skill atau kemampuan. Nah, sekarang, bagaimana pula dengan sistem perekonomian yang dikembangkan bangsa ini? Si pakar ekonomi mulai mencari-cari kesamaan dan perbedaan antara berjudi dan berekonomi! Wah, kalau begitu, saya harus lihat terlebih dahulu sistem ekonomi yang diterapkan oleh bangsa ini. Setelah berfikir beberapa saat, si pakar ekonomi mencoba menjelaskan hal-hal yang terkait antara judi dan ekonomi melalui atribut-atribut yang terdapat di dalam bidang kajiannya yaitu ekonomi.

Judi dan Atribut-Atribut Ekonomi
Sebelum membahas masalah judi, mari kita bicarakan lebih dahulu atribut-atribut dasar yang membentuk teori-teori ekonomi yang terkait dengan judi itu, kata pakar ekonomi kepada pakar sosialogi. Dasar yang memotivasi manusia beraktivitas ekonomi, menurut pandangan ekonomi neo klasik (pandangan yang dianut oleh bangsa kita ini) adalah bahwa manusia memiliki kepentingan yang secara rasional harus dimaksimalkan. Kerasionalan ini termanifestasi dalam suatu pandangan bahwa “ adalah wajar jika manusia akan terus menerus dan senantiasa selalu berusaha untuk kepentingannya “, yang dalam bahasa ekonomi disebut Pemaksimalan Kemanfaatan (maximum utility). Pandangan ini, dilahirkan oleh asumsi bahwa kebutuhan manusia tidak terbatas sedang sumberdaya pemenuh kebutuhan manusia itu adalah terbatas. Beberapa atribut ekonomi neo klasik itu, antara lain meliputi:
1. Memenangkan Persaingan
Hampir semua pakar ekonomi bangsa kita ini sepakat bahwa untuk memenangkan persaingan maka kata kuncinya adalah meningkatkan daya saing. Jadi, semua pihak yang menghalangi peningkatan daya saing, dianggap sebagai ancaman. Inilah pemikiran para pakar ekonom dalam mengembangkan ekonomi bangsa atau suatu unit bisnis. Oleh karenanya, bagaimana maningkatkan daya saing adalah masalah besar yang harus diselesaikan. Jadi, salahkah jika kita memiliki pandangan demikian, kata pakar ekonomi tadi? Si pakar sosiologi secara cepat menjawab, “ jelas tidak “. Sebab, secara kenyataan, dia melihat bahwa praktek-praktek ekonomi mengarah pada pemikiran tersebut. Lalu, jika tidak salah, maka apa bedanya dengan perjudian, kata si pakar sosialogi, melanjutkan kebingungannya? Sebab, setiap pemain, akan terpacu logikanya secara terus menerus untuk meningkatkan daya saing agar bisa memenangkan permainan. Secara logis, si pakar ekonomi menjawab, “ ya, tidak ada bedanya! “.
2. Portofolio dan Suka Resiko ( Risk Taker )
Dalam bahasa ekonomi, tepatnya keuangan, portofolio merupakan pendekatan yang membicarakan tentang cara meminimumkan resiko/kerugian dan sekaligus memaksimalkan hasil/keuntungan dari mengkombinasikan beberapa peluang yang tercermin di dalam bentuk saham yang dibeli seorang investor. Berapa jumlah duit/aset yang dialokasikan ke saham A, B, dan C agar hasilnya dapat maksimal, si pakar ekonomi coba menjelaskan ke pakar sosiologi. Jika seperti ini adanya, dapatlah kita katakan bahwa seorang investor yang telah melakukan portofolio, tidak jauh berbeda dengan seorang penjudi yang juga melakukan portofolio saat menebarkan duitnya di meja judi, si pakar sosiologi mulai dapat memberi simpulan. Betul sekali, kata si pakar ekonomi. Lalu, pakar sosiologi itu mencoba untuk meyakinkan dirinya dengan berkata, sebab para pelaku judi, juga melakukan kombinasi permainan yang disediakan oleh pemilik kasino di meja judi. Lantas, bagaimana kaitannya dengan masalah suka pada resiko, si pakar sosiologi mulai menyoal secara mendalam?
Masalah suka resiko, juga ikut dibicarakan dalam bahasan ekonomi. Seorang pelaku bisnis, cenderung memiliki mental suka pada resiko, sebab dia mengejar keuntungan atau penambahan uang/asetnya yang paling besar atau paling maksimal dari kondisi yang ada, kata pakar ekonomi tadi. Nah, kalo begitu, ini juga menjadi ciri dari diri si pelaku judi yang suka dengan rsiko, si pakar sosiologi mencari kesamaan. Si pakar ekonomi tadi meng-iya-kan sambil bingung dengan logika ekonominya sendiri. Wah, kalau begitu, maka apa bedanya pelaku bisnis dengan pelaku judi tadi yang sama-sama gemar berspekulasi, dalam hati si pakar ekonomi.

3. Menciptakan peluang
Baik investor maupun pelaku judi akan secara konsisten untuk melirik dan menciptakan peluang. Kesamaan ini, juga sama-sama dimotori oleh 1 hal yaitu mencetak duit/aset yang lebih banyak dari yang telah ada. Motor ini berlaku baik bagi investor maupun pelaku judi. Nah, kog bisa sama lagi ya? Kata si pakar ekonomi. Selaku orang pakar sosiologi, maka diapun, menganggukkan kepalanya, sebagai tanda setuju. Nah, kita sekarang ke atribut ekonomi selanjutnya.
4. Keunggulan Bersaing
Kata “ keunggulan bersaing “ bukan kata baru dalam bahasan ekonomi. Namun, sadar atau tidak, para penjudi juga memiliki kosa kata yang demikian di dalam kamusnya yaitu untuk dapat memenangkan permainan, pemain harus memiliki keunggulan bersaing tertentu. Bagaimana keunggulan bersaing itu di ekonomi? Sifat ingin tahu si pakar sosiologi pun muncul? Para ekonom bangsa ini, memandang bahwa untuk memenangkan persaingan, harus memiliki keunggulan bersaing di semua lini, jawab si pakar ekonomi, singkat. Jadi, apa bedanya dengan bahasan perjudian tadi? Kata si pakar sosiologi. Ya, tidak ada, kata si pakar ekonomi. Tampak si pakar sosiologi mulai mewajarkan, mengapa judi sulit diberantas, maka si pakar ekonomi berkata, pak pakar sosiologi, ini atribut yang terakhir, walaupun masih banyak atribut yang lainnya, lho pak!

5. Moral/Etika
Moral, etika, dan sejenisnya nyaris tidak ditemui di dalam kajian ekonomi. Sebab, para ekonom bangsa ini, telah memisahkan antara ekonomi dan sendi-sendi kehidupan lainnya seperti sosial dan budaya dalam kajiannya. Begitu pula dengan dunia perjudian. Dalam dunia judi, para pelaku judi nyaris tidak memiliki kosa kata moral dan etika di alam fikirannya. Jadi, kalau pun kita tampak mereka melakukan kegiatan-kegiatan bernuansa sosial, maka dapat kita sebut karena mereka memiliki kepentingan di dalam kegiatan tersebut. Bagi mereka, setiap duit/aset yang dikeluarkan dianggap sebagai biaya dan setiap biaya harus dapat memberi sesuatu yang pada gilirannya akan memperbanyak duit/aset yang mereka miliki dari yang semula.
Berdasar beberapa atribut ekonomi di atas, ternyata juga menjadi atribut di dalam dunia perjudian. Sehingga, jika semua manusia Indonesia mengikuti pola berfikir gaya para ekonom tersebut, maka dapat dipastikan bahwa Indonesia akan menjadi suatu bangsa yang kegiatan ekonominya berpola seperti pola para penjudi. Sebab, setiap orang akan memaksimalkan pemenuhan kebutuhannya yang secara bersamaan juga berarti akan meminimalkan pemenuhan kebutuhan orang lain. Ini berarti, jika mewajarkan fenomena seperti itu, sama artinya, kita mewajarkan fenomena yang kita lihat di meja perjudian dimana pada saat yang bersamaan, ada pihak yang menang dan ada pihak yang kalah. Dengan kata lain, fenomena yang mendasar dalam dunia berjudi tersebut, terdapat pula di dalam berekonomi. Disadari atau tidak, kita sama-sama mewajarkannya.

Simpulan
Jika membangun ekonomi bangsa melalui pendekatan ekonomi versi perjudian alias neo klasik, maka kondisi apa yang kemungkinan besar akan terjadi? Kalau tidak menjadi bangsa yang kaya, ya, menjadi bangsa yang miskin, jawab si pakar sosiologi dengan lugu. Tepat, kata si pakar ekonomi. Tetapi, masih ada lagi hal yang lebih penting yaitu bangsa kita sangat sukar dan hampir tidak mungkin memberantas perjudian dan sejenisnya. Sebab, para pelaku judi juga sekaligus dapat sebagai pelaku ekonomi dan tidak jarang juga menjadi pakar ekonomi atau ekonom. Selain itu, adanya sikap yang berpihak dari para pengambil kebijakan ekonomi untuk melegitimasi pola-pola ekonomi namun pola-pola bernuansa judi, dihentikan, suatu hal yang sia-sia sepertinya. Sebab, antara pola ekonomi dan pola judi adalah sama. Bagaimana ini, Pak pakar sosiologi? Tanya si pakar ekonomi yang sedang galau dengan ilmu yang dipahaminya. Apa mungkin memberantas judi tapi sistem ekonomi bangsa adalah seperti yang kita lihat yaitu bersistem judi? Wah, mengapa jadi kacau begini, yaa!! Dengan rasa malu dan tak percaya diri, si pakar ekonomi, permisi bergegas untuk pulang karena selain khawatir jika pakar sosiologi kita ini menyoal masalah mendasar lainnya dari ekonomi, juga khawatir jika dipertanyakan kontribusi dari pakar ekonomi untuk membangun ekonomi bangsa ini yang semakin banyak pakar ekonomi, bukan semakin baik ekonomi bangsa ini, tetapi semakin runyam dan tidak tentu arahnya.

No comments: